Sampang, Potretrealita.com – Potret buram dunia pendidikan di Kabupaten Sampang kembali mencuat dan memantik keprihatinan publik. Puluhan siswa SD Negeri Gulbung IV, Kecamatan Pangarengan, terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di luar ruangan selama bertahun-tahun akibat tidak tersedianya ruang kelas yang layak.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi wajah pendidikan daerah. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, para siswa tetap berjuang menimba ilmu di area terbuka yang jauh dari standar kenyamanan dan keselamatan. Ironisnya, hingga kini belum ada kepastian perbaikan dari pihak terkait.
Anak-anak yang seharusnya menikmati proses belajar di ruang kelas yang aman dan nyaman justru dipaksa bertahan dalam situasi memprihatinkan. Aktivitas belajar di ruang terbuka tentu berdampak besar terhadap konsentrasi dan kualitas pendidikan yang mereka terima setiap hari.
Kondisi tersebut memunculkan sorotan tajam terhadap Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan mendasar di SDN Gulbung IV. Hak dasar siswa untuk memperoleh pendidikan yang layak seolah terabaikan tanpa perhatian serius.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Nor Alam, meminta agar konfirmasi diarahkan kepada Kepala Bidang SD.
“Mohon maaf mas, langsung ke Kabid SD Pak Yusuf, karena beliau yang menangani terkait SD,” ujarnya singkat.
Namun ketika tim media mencoba menghubungi Kabid SD Yusuf melalui telepon dan pesan singkat WhatsApp, yang bersangkutan belum memberikan jawaban hingga berita ini diterbitkan.
Kritik keras datang dari pengamat pendidikan, Wirno Sangkurata, yang menilai pemerintah daerah tidak boleh terus bersikap pasif terhadap kondisi memprihatinkan yang dialami siswa SDN Gulbung IV.
“Jika tidak ada solusi terbaik bagi adik-adik SDN Gulbung IV, maka kita sedang menyaksikan pembiaran terhadap masa depan mereka. Pemerintah daerah harus segera bertindak, jangan biarkan generasi penerus punah begitu saja,” tegas Wirno.
Persoalan ini menambah panjang daftar masalah pendidikan di Kabupaten Sampang dan menjadi ujian serius bagi komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan pemerataan pendidikan yang layak.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan sekolah, tetapi juga masa depan puluhan anak bangsa yang seharusnya mendapatkan hak pendidikan secara utuh dan bermartabat.
Kini publik menunggu langkah nyata Pemerintah Kabupaten Sampang: hadir memberi solusi, atau terus membiarkan siswa belajar dalam keterlantaran. (Red)











