Menu

Mode Gelap
Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Dengar Aspirasi Warga Tanah Kali Kedinding Saat Jum’at Curhat Tim Jihandak Brimob Polda Jatim Evakuasi Temuan Granat Nanas Di Desa Talkandang Situbondo Patroli Samapta Berbagi Bantu 20 Sak Semen Untuk Pembangunan Masjid At Taqwa Situbondo 950 Personel Gabungan Diterjunkan, Polrestabes Surabaya Amankan Demo Ojol Berkas Penggelapan Honor BPD Karang Gayam Masuk Kejari, L-KPK Apresiasi Kinerja Polres Sampang

Nasional · 20 Jan 2026 12:26 WIB ·

Soal SDN Batuporo Timur 1, Pemerhati Kebijakan: “Ini Bukan Soal Satu Orang, Tapi Sistem”


 Soal SDN Batuporo Timur 1, Pemerhati Kebijakan: “Ini Bukan Soal Satu Orang, Tapi Sistem” Perbesar

Sampang, Potretrealita.com – Dengan Viral-nya video amatir yang menampilkan SDN Batuporo Timur 1 tanpa kehadiran siswa pada jam tertentu, tidak semestinya langsung diarahkan untuk memojokkan Kepala Bidang Pembinaan SD, Yusuf, S.Pd, seolah seluruh persoalan pendidikan dasar di Sampang bertumpu pada satu nama dan satu jabatan.

Agus Sugito Pemerhati Kebijakan Publik menilai, narasi yang berkembang saat ini terlalu simplistis, emosional, dan cenderung mencari sasaran personal, bukan menyelesaikan masalah secara struktural.

“Hak ini adalah lagu lama, ada video viral, lalu dicari figur untuk disalahkan, Kabid SD dijadikan target tembak, seolah dia sutradara tunggal semua problem sekolah dasar, ini cara berpikir yang keliru,” tegas Aguk, Selasa (20/01/2026).

Menurut Aguk, secara tata kelola pemerintahan, Kabid Pembinaan SD bukan eksekutor tunggal di lapangan, melainkan bagian dari sistem berjenjang yang melibatkan kepala sekolah, pengawas, koordinator wilayah, hingga kebijakan makro dinas.

“Kalau ada dugaan masalah di satu sekolah, yang diuji itu sistemnya, fungsi kepala sekolah, pengawas, mekanisme pembinaan rutin, bukan langsung lompat ke Kabid seolah semua dikendalikan dari satu meja,” ujarnya.

Menanggapi polemik tersebut, Yusuf, S.Pd menegaskan bahwa dirinya telah turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi faktual di SDN Batuporo Timur 1 setelah video tersebut beredar luas di masyarakat dan sudah menyampaikan hasiinya terhadap atasannya.

Yusuf juga menyampaikan bahwa meskipun dirinya masih tergolong baru bertugas di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, upaya pembenahan dan penguatan pembinaan telah dilakukan secara aktif.

“Walaupun kami orang baru di Disdik, kami tidak diam, kami sudah banyak melakukan langkah-langkah pembinaan dan counter di internal Disdik, termasuk turun langsung ke sekolah-sekolah, bahkan secara rutin setiap hari Sabtu, seluruh kegiatan tersebut sudah kami laporkan secara berjenjang kepada atasan,” jelas Yusuf.

Aguk menilai, penjelasan tersebut menunjukkan bahwa proses kerja birokrasi berjalan dan tidak bisa dinilai hanya dari persepsi di ruang media sosial.

“Kerja birokrasi itu bertahap, ada verifikasi lapangan dan laporan administratif, fakta bahwa Kabid sudah turun langsung dan menjalankan pembinaan rutin harus dilihat secara objektif,” katanya.

Aguk juga menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang mengaitkan data Dapodik dengan dugaan konkalikong tanpa audit resmi, yang menurutnya berbahaya bagi iklim birokrasi.

“Dapodik itu sistem nasional, kalau ada ketidaksesuaian, ada jalur klarifikasi dan verifikasi faktual, menuduh ada permainan tanpa dasar audit justru menciptakan kegaduhan, bukan perbaikan,” katanya.

Terkait tudingan bahwa Yusuf dianggap “banyak bicara tapi minim aksi”, Aguk mengingatkan publik bahwa respon cepat di ruang media tidak selalu sejalan dengan kerja administratif yang memiliki prosedur dan tahapan.

“Birokrasi itu bukan live TikTok, ada tahapan pengecekan, laporan tertulis, dan koordinasi lintas fungsi, diam sementara bukan berarti tidak bekerja,” tambahnya.

Aguk menegaskan, kritik terhadap pejabat publik adalah hal wajar, namun harus berbasis indikator kinerja, bukan framing personal.

“Kalau mau mengkritik, ukur dengan capaian pembinaan, program intervensi, dan kebijakan yang dijalankan, bukan dengan label ‘gacor’ yang lebih cocok untuk konten, bukan analisis kebijakan,” sindirnya.

Di akhir pernyataannya, Aguk mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang untuk segera membuka hasil klarifikasi lapangan secara terbuka, agar narasi liar yang memojokkan individu tertentu tidak terus berkembang tanpa dasar.

“Masalah pendidikan tidak akan selesai dengan mencari kambing hitam, yang dibutuhkan adalah koreksi sistem, bukan penghakiman personal,” pungkas Aguk. (Red)

Artikel ini telah dibaca 50 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Berlanjut, Hasilnya Dibutuhkan Keluarga untuk Administrasi

20 Januari 2026 - 15:13 WIB

PBVSI Jatim Resmi Buka Kejurprov Bola Voli U-18 di Tulungagung

20 Januari 2026 - 15:00 WIB

Aksi Pencurian Motor di Kos-Kosan Gresik Berakhir Tragis

20 Januari 2026 - 14:52 WIB

Curi Motor dari Teras, Pemuda Tambak Wedi Digelandang ke Polsek Kenjeran

20 Januari 2026 - 14:38 WIB

Putusan MK Bikin Wartawan Lebih Aman, Pengamat: Tak Semua Kritik Bisa Dipidanakan

20 Januari 2026 - 14:30 WIB

Sinergi Komunitas dan Media, 200 Mushaf Al-Qur’an Disalurkan untuk Pendidikan Keagamaan

20 Januari 2026 - 12:46 WIB

Trending di Nasional
error: Content is protected !!