Menu

Mode Gelap
Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Dengar Aspirasi Warga Tanah Kali Kedinding Saat Jum’at Curhat Tim Jihandak Brimob Polda Jatim Evakuasi Temuan Granat Nanas Di Desa Talkandang Situbondo Patroli Samapta Berbagi Bantu 20 Sak Semen Untuk Pembangunan Masjid At Taqwa Situbondo 950 Personel Gabungan Diterjunkan, Polrestabes Surabaya Amankan Demo Ojol Berkas Penggelapan Honor BPD Karang Gayam Masuk Kejari, L-KPK Apresiasi Kinerja Polres Sampang

Nasional · 23 Agu 2026 11:43 WIB ·

Dokter Sp.KKLP, Garda Terdepan Menjaga Perjalanan Kesehatan Keluarga


 Dokter Sp.KKLP, Garda Terdepan Menjaga Perjalanan Kesehatan Keluarga Perbesar

Surabaya, potretrealita.com — Kesehatan tidak selalu identik dengan datang ke dokter ketika seseorang sudah jatuh sakit. Lebih dari itu, pelayanan kesehatan ideal juga harus mampu mencegah penyakit, mendeteksi risiko sejak dini, serta mendampingi masyarakat agar tetap sehat dan produktif.

Pandangan tersebut disampaikan dr. Deddy Hartanto, Sp.KKLP, M.Imun, Dipl.AAAM, AIFO-K, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya sekaligus praktisi medis. Menurutnya, keberadaan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (Sp.KKLP) memiliki peran penting dalam membangun pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Orang datang ke dokter bukan hanya karena mereka sakit. Ada yang datang karena ingin memastikan tubuhnya tetap sehat, ada orang tua yang khawatir anaknya terlalu sering sakit, dan ada pula pasien yang membutuhkan pendampingan kesehatan secara utuh,” ungkapnya.

Bukan Sekadar Dokter Umum dengan Gelar Spesialis

Deddy menilai masih diperlukan edukasi kepada masyarakat mengenai profesi Sp.KKLP. Menurutnya, dokter Sp.KKLP bukan sekadar dokter umum yang mendapatkan tambahan gelar spesialis, melainkan memiliki kompetensi untuk menangani persoalan kesehatan secara komprehensif di tingkat layanan primer.

Seorang Sp.KKLP, lanjutnya, tidak hanya melihat hasil pemeriksaan laboratorium atau diagnosis penyakit. Dokter juga mempertimbangkan usia, pekerjaan, pola makan, aktivitas fisik, kondisi psikososial, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan keluarga, faktor risiko penyakit hingga kemampuan pasien menjalankan anjuran kesehatan.

“Dua orang dengan penyakit yang sama belum tentu membutuhkan pendekatan yang sama,” jelasnya.

Ia memberikan contoh pasien hipertensi. Penanganannya tidak cukup hanya dengan memberikan obat penurun tekanan darah. Dokter juga perlu mengetahui pola makan pasien, aktivitas fisik, kualitas tidur, kebiasaan merokok, kondisi psikologis, kepatuhan minum obat hingga dukungan keluarga.

“Di situlah kedokteran keluarga bekerja,” tegas Deddy.

Mendeteksi Risiko Sebelum Penyakit Menjadi Berat

Menurut Deddy, masa depan pelayanan kesehatan seharusnya tidak hanya berorientasi pada pengobatan setelah penyakit muncul. Upaya pencegahan dan deteksi dini harus menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan.

Layanan primer memiliki posisi strategis karena dokter dapat bertemu pasien ketika kondisi kesehatan masih relatif awal. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan pencegahan, skrining, edukasi serta pengelolaan berbagai faktor risiko.

Kolesterol yang mulai meningkat, berat badan bertambah, tekanan darah perlahan naik, gula darah berada di batas abnormal, kurang aktivitas fisik, gangguan tidur hingga pola makan tidak sehat merupakan persoalan yang sering dianggap sepele.

Padahal, jika berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan, berbagai faktor risiko tersebut dapat berkembang menjadi penyakit kronis yang lebih kompleks.

“Mencegah satu penyakit sebelum terjadi tentu jauh lebih manusiawi daripada menunggu penyakit tersebut merusak kualitas hidup seseorang,” ujarnya.

Keluarga Menjadi Bagian Penting dalam Proses Kesehatan

Konsep kedokteran keluarga juga menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam proses pelayanan kesehatan. Sebab, kondisi kesehatan seseorang tidak selalu dapat dipisahkan dari lingkungan dan kebiasaan keluarganya.

Anak dengan obesitas, misalnya, bisa saja tumbuh dalam keluarga dengan pola makan yang sama. Pasien diabetes juga dapat mengalami kesulitan mengontrol gula darah apabila kebiasaan makan keluarga tidak ikut berubah.

Demikian pula dengan lansia yang membutuhkan dukungan keluarga dalam menjalani aktivitas maupun pengobatan.

“Dokter keluarga tidak hanya bertanya, ‘Apa penyakit Anda?’ tetapi juga ‘Bagaimana kehidupan Anda?’ Pertanyaan sederhana tersebut sering kali membuka pintu menuju persoalan yang jauh lebih besar,” tutur Deddy.

Dengan memahami konteks kehidupan pasien, dokter dapat memberikan anjuran medis yang lebih realistis dan sesuai dengan kondisi pasien.

Tidak Semua Keluhan Harus Berakhir di Rumah Sakit

Deddy menjelaskan, salah satu kekuatan layanan primer adalah kemampuannya menjadi pintu pertama sekaligus pengarah perjalanan pasien dalam sistem pelayanan kesehatan.

Dokter Sp.KKLP dapat menangani berbagai masalah kesehatan yang masih dapat diselesaikan di tingkat primer, melakukan pemantauan penyakit kronis, menjalankan upaya pencegahan dan skrining, serta menentukan kapan pasien membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis.

“Jika diperlukan rujukan, pasien dirujuk bukan karena dokter primer tidak mampu menangani, tetapi karena pasien membutuhkan tingkat pelayanan atau kompetensi yang lebih spesifik,” katanya.

Setelah mendapatkan pelayanan di tingkat lanjutan, dokter layanan primer tetap memiliki peran dalam melanjutkan pemantauan kondisi pasien. Dengan demikian, perjalanan pengobatan pasien dapat berlangsung lebih terarah dan berkesinambungan.

Teknologi Maju, Sentuhan Manusia Jangan Hilang

Kemajuan teknologi kedokteran dinilai menjadi sesuatu yang positif. Pemeriksaan semakin canggih, pilihan terapi semakin berkembang dan informasi kesehatan semakin mudah diperoleh.

Namun, Deddy mengingatkan agar kemajuan tersebut tidak menghilangkan hubungan manusiawi antara dokter dan pasien.

“Pasien bukan sekadar angka tekanan darah, bukan sekadar kadar HbA1c, bukan sekadar hasil CT-scan dan bukan sekadar diagnosis dalam rekam medis,” ujarnya.

Di balik data medis tersebut terdapat manusia dengan keluarga, pekerjaan, kecemasan, harapan, keterbatasan ekonomi, kebiasaan dan impian yang ingin tetap dijalani.

Karena itu, menurut Deddy, kedokteran keluarga merupakan salah satu bentuk pelayanan medis yang sangat manusiawi.

Masyarakat Sehat Tidak Dibangun Hanya di Rumah Sakit

Rumah sakit tetap memiliki peran penting, khususnya dalam menangani kasus yang membutuhkan teknologi, tindakan dan kompetensi spesialistik.

Namun, kesehatan masyarakat secara keseluruhan tidak dapat hanya dibangun melalui rumah sakit. Penguatan layanan primer diperlukan agar masyarakat memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang dekat, berkesinambungan dan berorientasi pada pencegahan.

“Kita perlu dokter yang tidak hanya menunggu pasien datang dalam keadaan sakit, tetapi juga mampu membangun budaya hidup sehat, melakukan pencegahan, mendeteksi risiko lebih awal dan mendampingi pasien dalam jangka panjang,” paparnya.

Deddy menilai keberhasilan seorang dokter Sp.KKLP bukan hanya ketika berhasil menyembuhkan penyakit. Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika faktor risiko dapat ditemukan lebih awal sehingga seseorang tidak sampai jatuh sakit.

Ketika anak tumbuh sehat, orang tua tetap produktif di usia lanjut, pasien dengan penyakit kronis mampu mempertahankan kualitas hidup yang baik, serta keluarga memahami bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menjaga Perjalanan Kesehatan Pasien

Pada akhirnya, menurut Deddy, pelayanan kesehatan yang ideal bukanlah pelayanan yang membuat masyarakat semakin sering datang ke rumah sakit karena sakit.

Sebaliknya, pelayanan kesehatan yang baik harus mampu membuat masyarakat lebih jarang sakit, lebih cepat mengenali masalah kesehatan dan lebih mampu menjaga kesehatan secara mandiri.

“Peran Dokter Sp.KKLP bukan hanya mengobati ketika sakit, bukan hanya memberikan resep dan bukan hanya membuat rujukan. Tetapi mendampingi manusia sepanjang perjalanan kesehatannya—dari sehat, berisiko sakit, mengalami penyakit hingga kembali mencapai kondisi kesehatan yang optimal,” pungkasnya.

Ia menambahkan, tujuan kedokteran pada akhirnya bukan semata-mata memperpanjang usia, tetapi membantu manusia menjalani kehidupan yang lebih sehat, produktif, mandiri dan bermakna.

“Itulah wajah kedokteran keluarga yang sesungguhnya,” tutup Deddy. (Red)

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Curi Truck di Jatiroto Lumajang, Pelaku Dibekuk Jatanras Polda Jatim Saat Melintas di Pasuruan

23 Agustus 2026 - 15:17 WIB

Rembol76 Turun Langsung ke Rumah Keluarga Korban Kekerasan Jombang, Desak Pelaku Ditangkap Tuntas

23 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Terungkap! Pelaku Curat di Warung Soto Sidoarjo Ditangkap Polisi di Bangkalan, Motor Masih Diburu

23 Agustus 2026 - 14:53 WIB

Semangat Kemerdekaan Membara, Bandarejo Asri Meriahkan HUT ke-81 RI dengan Gotong Royong

23 Agustus 2026 - 11:37 WIB

Megawati Soekarnoputri Konsolidasi Kader PDI Perjuangan Jatim, Tekankan Disiplin, Ideologi, dan Gotong Royong

23 Agustus 2026 - 11:33 WIB

ALDERA NEWS dan SINTORA NEWS Rutin Berbagi Sembako, Hadir untuk Warga yang Membutuhkan

23 Agustus 2026 - 11:27 WIB

Trending di Nasional
error: Content is protected !!