Surabaya, Potretrealita.com – Suasana tenang Sabtu pagi, 28 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB di Jalan Makam Peneleh, Genteng, Surabaya, mendadak berubah mencekam setelah aksi penjambretan terjadi secara cepat dan terencana.
Korban, Eko Siswoyo, warga Jalan Undaan I, saat itu tengah berjalan santai menuju warung kopi sambil memegang ponsel Redmi A5 di tangan kirinya. Ia baru saja mengirim pesan WhatsApp kepada temannya untuk mencari informasi pekerjaan. Namun, tanpa diduga, seorang pelaku yang mengendarai motor Yamaha Lexi putih datang dari arah belakang dan langsung merampas ponsel tersebut.
Pelaku diketahui mengenakan kaos lengan panjang merah, celana pendek, masker hitam, dan topi. Dengan gerakan cepat, ia memepet korban dan mengambil ponsel dalam hitungan detik sebelum melarikan diri. Aksi tersebut terekam kamera CCTV di sekitar lokasi.
Eko hanya bisa terdiam syok. Kondisi kakinya yang sedang sakit membuatnya tidak mampu mengejar pelaku.
“Waktu itu saya baru saja WhatsApp teman untuk cari kerja. Tiba-tiba pelaku dari belakang merampas HP, lalu kabur,” ujarnya dengan nada masih terkejut.
Menurutnya, pelaku sempat terlihat datang dari arah timur, kemudian berputar balik sebelum melancarkan aksinya.
“Pelaku satu orang pakai motor Lexi. Sebelumnya dia dari timur, terus putar balik dan menjambret,” tambahnya.
Bagi Eko, kehilangan ponsel bukan sekadar kehilangan barang berharga. Ponsel tersebut menjadi alat penting untuk berkomunikasi dan mencari pekerjaan. Kini, yang tersisa hanyalah rasa trauma serta rekaman CCTV yang menjadi saksi bisu kejadian tersebut.
Fenomena penjambretan ponsel di Surabaya sendiri bukan hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus serupa dilaporkan mengalami peningkatan dengan modus yang hampir sama, yakni memanfaatkan kelengahan korban yang menggunakan ponsel di ruang publik.
Adapun pola yang kerap terjadi antara lain pelaku menyasar ponsel pintar yang mudah dijual kembali, memilih lokasi jalan sepi atau gang kecil, serta beraksi dengan kendaraan bermotor berkecepatan tinggi untuk memudahkan pelarian.
Dampak dari aksi ini tidak hanya kerugian materi, tetapi juga menimbulkan rasa tidak aman di masyarakat, trauma psikologis, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari, termasuk akses pekerjaan dan komunikasi.
Pihak kepolisian menyatakan akan meningkatkan patroli di sejumlah titik rawan serta mengimbau masyarakat untuk lebih waspada. Warga diingatkan agar tidak menggunakan ponsel saat berjalan di tempat umum, memperhatikan situasi sekitar, serta segera melapor apabila menjadi korban tindak kejahatan. (Mul)











