Bangkalan, Potretrealita.com – Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun Anggaran 2025 di SDN Tunjung 4 kembali menjadi sorotan. Pasalnya, meski anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana tercatat menyerap dana lebih dari Rp40 juta, kondisi fisik bangunan sekolah masih ditemukan sejumlah kerusakan, mulai dari atap yang mengelupas hingga bagian plafon dan penutup bangunan yang terlihat jebol di beberapa titik.
Kepala SDN Tunjung 4, Sulis, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa anggaran BOS tahun 2025 pada pos penyediaan alat multimedia pembelajaran digunakan untuk pengadaan dua unit proyektor senilai sekitar Rp8 juta, satu unit laptop merek HP seharga Rp12 juta, serta satu unit CPU dengan nilai sekitar Rp2 juta.
“Untuk multimedia itu beli dua proyektor sekitar Rp8 juta, satu laptop HP sekitar Rp12 juta dan satu CPU sekitar Rp2 jutaan,” ujar Sulis.
Selain itu, Sulis menerangkan bahwa anggaran pada pos pengembangan perpustakaan digunakan untuk pembelian buku yang kemudian dibagikan kepada siswa mulai kelas I hingga kelas VI.
“Kalau tidak salah sekitar Rp38 juta untuk buku-buku yang dibagikan kepada siswa kelas satu sampai kelas enam,” katanya.
Sementara itu, pada pos pemeliharaan sarana dan prasarana, Sulis mengaku anggaran digunakan untuk perbaikan kerangka jendela dan pemasangan keramik. Namun ia mengaku tidak mengingat secara rinci nilai anggaran yang digunakan karena kegiatan tersebut dilaksanakan pada tahun 2025.
“Untuk pemeliharaan digunakan perbaikan kerangka jendela dan keramik. Kalau nominalnya saya lupa karena itu sudah tahun 2025. Sedangkan tahun 2026 digunakan untuk pembelian genteng, separuh sudah diperbaiki,” ungkapnya.
Namun, keterangan tersebut memunculkan tanda tanya. Berdasarkan data yang diterima media ini, pos pemeliharaan sarana dan prasarana SDN Tunjung 4 pada Tahun Anggaran 2025 tercatat menyerap anggaran lebih dari Rp40 juta.
Besarnya anggaran tersebut dinilai belum sejalan dengan kondisi fisik sekolah yang tampak saat ini. Dari hasil pantauan di lapangan, sejumlah bagian bangunan masih menunjukkan kerusakan yang cukup mencolok. Beberapa atap terlihat mengelupas, sementara pada sejumlah sudut bangunan masih ditemukan bagian yang jebol dan membutuhkan perbaikan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan anggaran pemeliharaan yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Publik tentu berharap setiap rupiah dana BOS yang digelontorkan pemerintah benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas sarana pendidikan dan kenyamanan peserta didik dalam menjalani proses belajar mengajar.
Untuk memastikan kesesuaian antara realisasi anggaran dan hasil pekerjaan di lapangan, diperlukan transparansi serta evaluasi lebih lanjut dari pihak terkait. Sebab, penggunaan dana pendidikan yang bersumber dari uang negara harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka, baik secara administrasi maupun secara fisik melalui hasil pekerjaan yang nyata dirasakan oleh siswa dan masyarakat.
“Anggaran pemeliharaan tembus Rp40 juta lebih, namun atap masih mengelupas dan bangunan masih jebol di sejumlah titik. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana efektivitas penggunaan dana BOS tersebut?” (Red)











