Menu

Mode Gelap
Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Dengar Aspirasi Warga Tanah Kali Kedinding Saat Jum’at Curhat Tim Jihandak Brimob Polda Jatim Evakuasi Temuan Granat Nanas Di Desa Talkandang Situbondo Patroli Samapta Berbagi Bantu 20 Sak Semen Untuk Pembangunan Masjid At Taqwa Situbondo 950 Personel Gabungan Diterjunkan, Polrestabes Surabaya Amankan Demo Ojol Berkas Penggelapan Honor BPD Karang Gayam Masuk Kejari, L-KPK Apresiasi Kinerja Polres Sampang

Nasional · 10 Apr 2026 10:57 WIB ·

Teknologi Maju, Pola Pikir Tertinggal: Kritik Tanpa Refleksi Diri


 Teknologi Maju, Pola Pikir Tertinggal: Kritik Tanpa Refleksi Diri Perbesar

Surabaya, Potretrealita.com – Di tengah derasnya arus komunikasi digital, ruang publik kian dipenuhi paradoks. Banyak orang tampak piawai merangkai kalimat untuk menyerang, namun gagap saat diminta bercermin. Fenomena ini mengemuka sebagai ironi sosial: kecerdasan digunakan untuk menjatuhkan, bukan memahami.

Dalam sejumlah perbincangan, baik di media sosial maupun forum terbuka, pola komunikasi cenderung bergeser dari adu gagasan menjadi adu serangan personal. Argumen yang semestinya dibangun di atas data dan nalar sehat, kerap digantikan oleh opini emosional dan logika yang dipaksakan.

Seorang pengamat sosial menilai, kecenderungan ini menunjukkan masih kuatnya cara berpikir lama yang belum beranjak dari pola defensif. “Logika tidak lagi dipakai untuk mencari kebenaran, melainkan sekadar alat pembenaran,” ujarnya.

Gejala tersebut memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat masih terjebak dalam pendekatan berpikir yang dangkal. Kritik tidak lagi diarahkan untuk membangun, melainkan untuk meruntuhkan. Dalam situasi ini, kemampuan refleksi diri justru menjadi barang langka.

Padahal, dalam tradisi intelektual, kemampuan berkaca merupakan fondasi utama dalam membangun nalar yang sehat. Tanpa itu, kritik hanya akan berubah menjadi serangan, dan perbedaan pandangan menjelma konflik berkepanjangan.

Lebih jauh, kondisi ini berimplikasi pada menurunnya kualitas diskursus publik. Ruang dialog yang seharusnya produktif, berubah menjadi arena saling menjatuhkan. Akibatnya, substansi kerap tenggelam oleh ego dan kepentingan sesaat.

Ironisnya, tidak sedikit pihak yang membungkus pola komunikasi tersebut dengan klaim intelektualitas. Padahal, kecerdasan sejati justru tercermin dari kemampuan mengelola perbedaan, bukan memperuncingnya.

Fenomena ini menjadi cermin bahwa kemajuan teknologi belum sepenuhnya diiringi kedewasaan berpikir. Tanpa kesadaran untuk berbenah, manusia berisiko terus terjebak dalam logika usang—yang lebih sibuk menyalahkan daripada memahami.

Di tengah dinamika ini, publik dituntut untuk kembali pada esensi berpikir rasional: mengedepankan nalar, menjaga etika, serta berani mengoreksi diri. Tanpa itu, kecerdasan hanya akan menjadi alat—yang tajam ke luar, namun tumpul ke dalam. (Lee)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Rakernas Muaythai Indonesia Sukses, Kepemimpinan LaNyalla Tuai Apresiasi Nasional

10 April 2026 - 11:06 WIB

Bandar Sabu DPO Kasus 3 Kg Digulung Polres Sampang, Terancam 20 Tahun Penjara

10 April 2026 - 10:44 WIB

Tiga Petugas Lapas Narkotika Pamekasan Dikukuhkan sebagai Satops Patnal, Perkuat Komitmen Pengawasan Internal

10 April 2026 - 07:51 WIB

Lapas Narkotika Pamekasan Gelar Bakti Sosial di Masjid Kemenag, Semarakkan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62

10 April 2026 - 07:45 WIB

Aksi Brutal di Menganti: Antonius Tersungkur Bersimbah Darah Usai Dibacok

10 April 2026 - 07:15 WIB

Sebulan, 19 Kasus Terbongkar! Satresnarkoba Sidoarjo Sikat Jaringan Pengedar

10 April 2026 - 07:10 WIB

Trending di Narkoba
error: Content is protected !!