Surabaya, potretrealita.com – Tragedi memilukan menimpa seorang anak penyandang disabilitas berinisial Z (10) di kawasan Rungkut, Surabaya. Korban ditemukan meninggal dunia pada Sabtu, 12 September 2026. Peristiwa tersebut memunculkan dugaan adanya penganiayaan dan perundungan berulang yang kini menjadi perhatian pihak keluarga.
Korban diketahui memiliki sejumlah kondisi medis bawaan, di antaranya down syndrome, kelainan jantung bocor, dan katarak. Korban juga disebut tidak dapat berbicara maupun berjalan sehingga sehari-hari membutuhkan kursi roda untuk beraktivitas.
Kondisi tersebut membuat korban menjadi bagian dari kelompok anak yang sangat rentan terhadap kekerasan dan membutuhkan perlindungan khusus dari lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan keterangan keluarga, korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Lehernya dilaporkan terjerat tali sepatu, sementara mulutnya dipenuhi busa putih yang diduga berasal dari sabun colek.
Keluarga menyebut hasil pemeriksaan awal turut menemukan cairan yang diduga sabun colek di dalam saluran pencernaan korban. Temuan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu didalami lebih lanjut oleh pihak berwenang untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.
Rekaman CCTV Jadi Bahan Penelusuran Keluarga
Keluarga kemudian melakukan penelusuran secara mandiri melalui rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi kejadian. Dari rekaman tersebut, menurut keterangan keluarga, terlihat dua anak tetangga mendatangi kediaman korban pada waktu tertentu.
Meski demikian, keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam peristiwa yang menyebabkan kematian korban masih perlu dipastikan melalui penyelidikan dan pembuktian oleh aparat penegak hukum.
Keluarga juga mengungkapkan bahwa sebelum kejadian tersebut, mereka pernah menemukan kondisi yang dinilai mencurigakan pada diri korban. Di antaranya, tali tambang yang berada di area pundak atau leher korban serta tubuh korban yang dipenuhi pasir.
Temuan-temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran keluarga mengenai kemungkinan adanya tindakan perundungan atau kekerasan yang terjadi berulang kali. Namun, rangkaian kejadian itu tetap memerlukan pendalaman lebih lanjut untuk memastikan hubungan dengan kematian korban.
Keluarga Desak Polisi Usut Tuntas
Atas peristiwa tersebut, pihak keluarga mendesak Polrestabes Surabaya dan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) agar mengusut kasus ini secara menyeluruh, transparan, adil, dan profesional.
Keluarga berharap seluruh bukti yang berkaitan dengan perkara tersebut, termasuk rekaman CCTV, hasil pemeriksaan medis, keterangan saksi, serta temuan lain di lokasi kejadian, dapat diperiksa secara cermat untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.
Penanganan perkara ini juga diharapkan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak serta memberikan perlindungan terhadap seluruh pihak yang masih berstatus anak sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda kekerasan terhadap anak, terlebih anak penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan untuk menyampaikan pengalaman atau meminta pertolongan.
Pengawasan lingkungan, kepedulian keluarga, serta respons cepat dari lembaga terkait menjadi bagian penting dalam mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Keluarga berharap kepergian Z tidak berlalu tanpa kejelasan. Mereka meminta agar penyebab kematian korban diungkap berdasarkan bukti dan proses hukum yang objektif, sehingga kebenaran dapat terungkap dan hak-hak korban tetap mendapatkan perhatian. (Mul)











